Thursday, April 16, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HIDRONEFROSIS

0 comments

A. Pengertian
Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan perifer ginjal pada satu atau kedua ginjal akibat adanya obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik sehingga tekanan diginjal meningkat (Smeltzer dan Bare, 2002).
Hidronefrosis adalah obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih dapat mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelviks ginjal dan ureter yang dapat mengakibatkan absorbsi hebat pada parenkim ginjal (Sylvia, 1995).
Apabila obstruksi ini terjadi di ureter atau kandung kemih, tekanan balik akan mempengaruhi kedua ginjal tetapi jika obstruksi terjadi disalah satu ureter akibat adanya batu atau kekakuan maka hanya satu ginjal yang rusak.


B. Etiologi
- Jaringan parut ginjal/ureter.
- Batu
- Neoplasma/tomur
- Hipertrofi prostat
- Kelainan konginetal pada leher kandung kemih dan uretra
- Penyempitan uretra
- Pembesaran uterus pada kehamilan (Smeltzer dan Bare, 2002).


C. Patofisiologi
Apapun penyebab dari hidronefrosis, disebabkan adanya obstruksi baik parsial ataupun intermitten mengakibatkan terjadinya akumulasi urin di piala ginjal. Sehingga menyebabkan disertasi piala dan kolik ginjal. Pada saat ini atrofi ginjal terjadi ketika salah satu ginjal sedang mengalami kerusakan bertahap maka ginjal yang lain akan membesar secara bertahap (hipertrofi kompensatori), akibatnya fungsi renal terganggu (Smeltzer dan Bare, 2002).


D. Manifestasi Klinis
Pasien mungkin asimtomatik jika awitan terjadi secara bertahap. Obstruksi akut dapat menimbulkan rasa sakit dipanggul dan pinggang. Jika terjadi infeksi maka disuria, menggigil, demam dan nyeri tekan serta piuria akan terjadi. Hematuri dan piuria mungkin juga ada. Jika kedua ginjal kena maka tanda dan gejala gagal ginjal kronik akan muncul, seperti:

1. Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium).
2. Gagal jantung kongestif.
3. Perikarditis (akibat iritasi oleh toksik uremi).
4. Pruritis (gatal kulit).
5. Butiran uremik (kristal urea pada kulit).
6. Anoreksia, mual, muntah, cegukan.
7. Penurunan konsentrasi, kedutan otot dan kejang.
8. Amenore, atrofi testikuler (Smeltzer dan Bare, 2002).


E. Penatalaksanaan
Tujuannya adalah untuk mengaktivasi dan memperbaiki penyebab dari hidronefrosis (obstruksi, infeksi) dan untuk mempertahankan dan melindungi fungsi ginjal. Untuk mengurangi obstruksi urin akan dialihkan melalui tindakan nefrostomi atau tipe disertasi lainnya. Infeksi ditangani dengan agen anti mikrobial karena sisa urin dalam kaliks akan menyebabkan infeksi dan pielonefritis. Pasien disiapkan untuk pembedahan mengangkat lesi obstrukstif (batu, tumor, obstruksi ureter). Jika salah satu fungsi ginjal rusak parah dan hancur maka nefrektomi (pengangkatan ginjal) dapat dilakukan (Smeltzer dan Bare, 2002).


F. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

1) Gangguan keseimbangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan cairan

Tujuan: Volume cairan seimbang
Kriteria hasil:
- RR dan TTV normal/stabil
- Turgor baik, mukosa lembab
- Intake dan output seimbang

Intervensi:
1. Timbang BB tiap tiga hari.
2. Observasi TTV
3. Beri posisi trendelenberg
4. Pantau intake dan output
5. kolaborasi pemberian diuresis
6. Cek laboratorium darah lengkap/rutin


2) Resti infeksi berhubungan dengan akses haemodialisa

Tujuan: Infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil:
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
- Tidak ada sepsis dan pus

Intervensi:
1. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
2. Tutup luka dengan teknik aseptik
3. Monitor jika ada peradangan
4. Monitor TTV
5. Kolaborasi pemberian antibiotik


3) Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan obstruksi akut

Tujuan: Nyeri berkurang sampai hilang
Kriteria hasil:
- Pasien tampak rileks
- Pasien mengungkapkan rasa nyeri berkurang

Intervensi:
1. Kaji tingkat nyeri
2. Beri penjelasan penyebab nyeri
3. Ajarkan relaksasi dan distraksi
4. Kolaborasi pemberian analgetik


4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan anemia

Tujuan: Kebutuhan aktivitas terpenuhi
Kriteria hasil:
- Meningkatkan kemampuan mobilitas
- Melaporkan penurunan gejala-gejala intoleransi aktivitas

Intervensi:
1. Kaji respon individu terhadap aktivitas, nyeri, dispnea, vertigo
2. Meningkatkan aktivitas klien secara bertahap
3. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi


5) Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah

Tujuan: Nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil:
- Masukan per oral meningkat
- Berat badan dalam rentang normal

Intervensi:
1. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat.
2. Berikan porsi makan kecil tapi sering
3. Ciptakan suasana yang menyenangkan
4. Dukung klien untuk makan bersama anggota keluarga
Selengkapnya...

Monday, April 13, 2009

JERAWAT ? OH, NO!!!

1 comments

Apa jadinya kalau kulit wajah kamu berjerawat? Yang pertama akan kamu alami adalah kurang rasa percaya diri dalam pergaulan. Bekas-bekas jerawat pada wajah kamu akan membentuk flek hitam yang sulit untuk dihilangkan. Lantas, bagaimanakah cara yang tepat untuk menghilangkan jerawat berikut flek hitam yang biasanya mengikuti setelahnya?

Apa yang menyebabkan merasa minder atau tidak percaya diri dalam pergaulan? Mungkin salah satu jawabannya adalah karena kamu memiliki masalah pada wajah, yaitu adanya jerawat dan flek hitam. Keduanya memang sangat mengganggu dan mengurangi keapikan penampilan kamu. Apalagi bekas-bekas jerawat yang akhirnya menjadi flek hitam di wajah tidak mudah untuk dihilangkan dalam waktu singkat.

Dari segi medis, jerawat atau acne adalah penyakit pada kulit wajah yang diakibatkan adanya ketidak normalan kulit akibat berlebihannya produksi kelenjar minyak. Produksi kelenjar minyak yang berlebihan mengakibatkan saluran follicle rambut dan pori-pori kulit menjadi tersumbat. Saluran yang tersumbat itu akan mengalami peradangan sehingga membentuk komedo.

Jerawat digolongkan ringan bila bentuknya masih komedo dengan jumlah lesi kurang dari 30. Apabila lesi berkisar antara 30-125, maka dinamakan jerawat sedang. Jerawat besar yang disebut nodul atau kista timbul bila lesi di atas 125. Daerah yang mudah terkena jerawat ialah muka, dada, punggung dan lengan. Munculnya jerawat sering terjadi pada masa pubertas antara 13-20 tahun yang disebabkan perubahan hormon pada renaja. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 85% populasi mengalami jerawat pada usia 13-20 tahun, 15% populasi mengalaminya hingga usia 30 tahun. Jika tidak teratasi dengan baik, gangguan jerawat dapat menetap hingga usia 40 tahun. Karena itu perlu kamu pahami beberapa penyebab utama munculnya jerawat.

Penyebab mengapa seseorang mempunyai jerawat dan yang lain tidak punya masih belum diketahui secara pasti. Setiap orang memiliki potensi berjerawat apabila tidak memperhatikan penyebab dari munculnya jerawat. Beberapa faktor yang menyebabkan jerawat secara umum adalah:

- Depresi dan stress berat
- Faktor keturunan atau genetik
- Aktivitas hormon yang berlebihan
- Kelenjar minyak yang hiperaktif
- Bakteri yang mengendap pada pori-pori kulit
- Iritasi kulit, endapan kotoran, dan akibat garukan
- Anabolic steroid
- Pil pengontrol kelahiran atau pil KB
- Berada dalam lingkungan dengan kadar chlorine yang tinggi, terutama chlorinated dioxin, yang menyebabkan jerawat serius yang disebut chloracne

Mencegah Timbulnya Jerawat yang Membandel
Bagi kamu yang masih belum berjerawat, jagalah kulit, terutama dari bahaya munculnya jerawat. Sebab jika sewaktu-waktu kamu berjerawat, ada kemungkinan akan meradang hingga semakin banyak tumbuh jerawat pada wajah kamu. Untuk itu, perlu mencegah jerawat sejak dini dengan cara:

1. Rajin mencuci muka setiap hari. Minimal sekali sehari sebelum kamu pergi tidur. Kotoran yang melekat pada wajah jika tidak dibersihkan akan masuk ke dalam pori-pori dan membuat lobang pori-pori terhambat. Akibatnya kelenjar minyak yang dihasilkan mengalami penyumbatan sehingga akan tumbuh jerawat baru di kulit kamu.

2. Hindari tidur larut malam, sebab saat malam hari ketika kamu tidur, metabolisme pada bagian kulit wajah dan kulit yang lain membantu untuk proses regenerasi.

3. Hilangkan kebiasaan mengkonsumsi makanan-makanan berlemak dan mengandung kolesterol tinggi. Lemak dan kolesterol dapat merangsang kelenjar minyak memproduksi minyak lebih banyak. Selain itu akan meningkatkan jumlah lesi hingga batas maksimal yang akan memperbesar jerawat.

4. Kurangi konsumsi alkohol dan merokok. Alkohol dan nikotin akan membawa dampak penuaan dini pada kulit wajah. Penuaan itu akan berakibat pada tergangggunya sel-sel metabolisme. Metabolisme yang terganggu akan mengakibatkan kulit rentan terkena infeksi dan bakteri jerawat.

5. Bersihkan wajah dari make-up sampai tuntas. Jangan sampai tersis foundation di wajah kamu yang justru akan menutup rapat pori-pori kulit wajah kamu.
Selengkapnya...

Sunday, April 12, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GAGAL GINJAL KRONIS

2 comments

A. Pengertian
Gagal ginjal kronik merupakan penurunan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan ireversibel, dimana tubuh gagal mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit seehingga menimbulkan uremia (Brunner, 1996)

Pasien dianggap telah masuk dalam stadium gagal ginjal kronik bila hasil tes kreatinin klirens (CCT) kurang dari 25 ml/menit atau kreatinin darah lebih dari 5 mg/dl.

Berdasarkan hasil CCT, gagal ginjal kronik dibagi atas:
- 100-75 ml/menit disebut cadangan ginjal menurun
- 75-26 ml/menit disebut gagal ginjal kronik
- kurang dari 5 ml/menit disebut gagal ginjal terminal

Menurunnya faal ginjal pada CRF umumnya progresif, berlangsung beberapa bulan sampai beberapa tahun dan melampaui tahapa-tahapan sebagai berikut:
1. Tahap decrease renal reserve
Pada tahap ini ginjal berfungsi antara 40-75 % dari fungsi ginjal normal. Kadar ureum dan kreatinin masih dalam batas normal dan belum menunjukkan adanya gejala akumulasi sisa metabolisme. Sekitar 50-60% jaringan ginjal mengalami kerusakan.

2. Tahap renal insufisiensi
Ginjal masih berfungsi 20-40%. Telah terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus, gangguan ekskresi dan non ekskresi sehingga kadar ureum dan kreatinin plasma meningkat. Terjadi gangguan dalam buang air kecil dan anemia.

3. Tahap end stage renal disease
Fungsi ginjal menurun sampai kurang dari 15%. Pengaturan hormone dan pengeluaran sisa metabolisme mengalami gangguan berat, terjadi gangguan homeostasis sehingga kadar ureum dan kreatinin meningkat, gangguan keseimbangan cairan dan elekstrlit, perubahan Ph dan gejala lainnya. Pada tahap ini sudah memerlukan tindakan dialysis.


B. Etiologi
Gagal ginjal kronik biasanya terjadi setelah pasien mengalami berbagai macam penyakit yang merusak nefron, seperti : diabetes mellitus, glomerulonefritis kronik, pyelonefritis, hipertensi tak terkontrol, obstruksi saluran kemih, lesi herediter seperti pada ginjal polikistik, gangguan pembuluh darah ginjal, obat-obatan, agen toksik dal lain-lain.


C. Patofisiologi
Pada saat fungsi ginjal menurun, produk akhir metabolisme protein tidak dapat dikeluarkan melalui urin dan terakumulasi dalam darah dan terjadi uremia sehingga mempengaruhi berbagai system dalam tubuh. Semakin tinggi kadar ureum dalam darah gejala yang ditimbulkan semakin berat. Penurunan laju filtrasi glomerulus semakin meningkatkan kadar ureum dan kreatinin darah serta menurunkan hasil CCT.

Ginjal cenderung menahan natrium dan air sehingga menimbulkan edema, hipertensi dan congestive heart failure. Peningkatan tekanan darah terjadi oleh aktivasi system rennin-angiotensin dan sekresi aldosteron oleh ginjal.

Pada beberapa pasien terjadi kecenderungan kehilangan natrium sehingga memungkinkan terjadinya hipotensi dan hipovolemi. Keadaan muntah dan diare dapat mengurangi produksi sodium dan air yang semakin memperburuk kondisi uremia.

Asidosis metabolic terjadi jika ginjal tidak mampu mengeluarhan peningkatan jumlah asam (ion H) karena ketidakmampuan tubulus ginjal untuk mengeluarkan ammonia dan reabsorbsi bicarbonate. Tingkat calsium dan fosfat dalam serum berbanding terbalik karena menurunnya laju filtrasi glomerulus.

Anemia terjadi karena produksi eritropoietin oleh ginjal tidak mencukupi, usia sel darh merah yang memendek, atau kurang nutrisi. Eritropoietin normal diproduksi oleh ginjal dan diperlukan oleh sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah. Pada gagal ginjal kronik terjadi penurunan produksi sel darah merah dan menimbulkan anemia sehingga mengakibatkan kelemahan, angina, dan nafas pendek.

Penyakit tulang karena uremia (renal osteo distropy) timbul akibat perubahan calsium, fosfat, dan hormone yang tidak seimbang, juga menurunnya aktivitas metabolisme vitamin d secara berangsur-angsur. Kadang-kadang proses kalsifikasi dalam tulang mengalmi gangguan sehingga mengakibatkan osteomalasia.

Komplikasi neurologist dapat terjadi karena hipertensi berat, ketidakseimbangan elektrolit, intoksikasi air, efek obat-obatan serta gagal ginjal itu sendiri. Manifestasi yang timbul bisa berupa gangguan fungsi mental, perubahan kepribadian dan tingkah laku, kejang dan koma.


D. Manifestasi klinik
Pada gagal gimjal kronik terjadi gangguan mekanisme homeostasis sehingga menimbulkan gangguan pada berbagai system tubuh, di antaranya:

1. Sistem kardiovaskuler
Hipertensi (karena retensi sodium dan air, aktivasi system rennin-angiotensin-aldosteron), gagal jantung kongestif dan edema pulmonal karena kelebihan cairan, perikarditis karena penumpukan racun uremic, pitting edema, gangguan irama jantung, nyeri dada, sesak nafas

2. Sistem gastrointestinal
Terjadi anoreksia, mual muntah, cegukan, ulserasi di mulut hingga perdarahan, konstipasi atau diare.

3. Sistem integument
Terjadi pruritis. Ekimosis, kulit kering, rambut mudah patah.

4. Sistem neurologi dan otot
Terjadi perubahan kesadaran, tidak mampu konsentrasi, kejang, kelemahan, disorientasi. Dapat terjadi kram, fraktur, foot drop serta penurunan kekuatan otot.

5. Sistem pernafasan
Dapat terjadi bunyi nafas crackles, sputum kental, sesak nafas, nafas pendek bahkan nafas kussmaul.

6. Sistem perkemihan
Terjadi penurunan jumlah urin, nokturia, proteinuria.

7. Gangguan lain
Osteodistrofi renal, hipokalsemia, hiperkalemia, hiperfosfatemia bahkan asidosis metabolik.


E. Pemeriksaan diagnostik
Laboratorium: urinalisa, urem, creatinin, darah lengkap, elektrolit, protein (albumin), CCT,analisa gas darah, gula darah

Radiology: foto polos abdomen, USG ginjal, IVP, RPG, foto thoraks dan tulang

biopsy ginjal

ECG untuk mengetahui adanya perubahan irama jantung


F. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan pada gagal ginjal kronik adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin. Semua faktor yang berperan dalam terjadinya gagal ginjal kronik dicari dan diatasi.

1. Penatalaksanaan konservatif
Meliputi pengaturan diet, cairan dan garam, memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa, mengendalikan hiperensi, penanggulangan asidosis, pengobatan neuropati, deteksi dan mengatasi komplikasi.

2. Penatalaksanaan pengganti
Dialysis (hemodialisis, peritoneal dialysis) transplantasi ginjal


G. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

1. Kelebihan volume cairan b.d. adanya retensi air

Tujuan: Kelebihan volume cairan dapat teratasi

Kriteria Hasil:
- Tanda-tanda vital dalam batas normal dan stabil
- Tidak ada edema
- Jumlah urin sesuai dengan kondisi individu
- Berat badan turun dan stabil
- Hasil laboratorium normal

Intervensi
1. Observasi tanda-tanda vital
2. Monitor intake dan output cairan, balance tiap 24 jam
3. Batasi intake cairan, sesuaikan dengan jumlah urin
4. Timbang berat badan tiap hari
5. Observasi adanya edema pada area yang menggantung (pitting edema)
6. Auskultasi bunyi nafas dan denyut jantng
7. Observasi adanya penurunan kesadaran, perubahan status mental
8. kolaborasi : pemberian terapi, konsul ahli gizi, pemeriksaan laboratorium, foto thoraks, pemasangan kateter jika perlu, persiapan dialysis.

2. (Risiko) penurunan curah jantung b.d.
- perubahan volume sirkulasi
- kerja jantung berlebihan
- resistensi vaskuler perifer
- perubahan frekuensi, irama dan konduksi otot jantung karena ketidakseimbangan elektrolit, hipoksia

Tujuan: Tidak terjadi penurunan curah jantung / curah jantung kembali normal

Kriteria Hasil:
- Tekanan darah dalam rentang normal
- Irama dan frekuensi denyut jantung stabil, tidak ada disritmia
- Tidak ada sianosis
- EKG normal
- Toleransi aktivitas meningkat
- Kapiler refill

Intervensi
1. Monitor tekanan darah, bandingkan hasil pengukuran pada tangan kiri dengan tangan kanan
2. Auskultasi bunyi nafas dan denyut jantung
3. Observasi warna kulit, kelembaban, suhu dan kapiler refill
4. Batasi aktivitas, Bantu klien dalam ADL
5. Monitor respon klien terhadap pengobatan yang diberikan
6. Batasi intake natrium dan cairan
7. Monitor EKG secara berkala
8. Kolaborasi dalam pemberian terapi, pemeriksaan laboratorium konsul ahli gizi
Selengkapnya...

 

dez's blog Copyright © 2008 D'Black by Ipiet's Blogger Template